Bedug Kyai Bagelen Terbesar di Dunia
![]() |
| Bedug Kyai Bagelen merupakan bedug raksasa yang menjadi warisan budaya Islam di Kabupaten Purworejo. Sampai saat ini bedug tersebut masih mengagumkan banyak orang. (Foto SM CyberNews/Nur Kholiq) |
Purworejo, CyberNews. Sejarah perkembangan Islam di Kabupaten Purworejo tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Bedug Kyai Bagelen. Alat penanda sholat yang diyakini ukurannya terbesar di dunia ini menjadi saksi sejarah yang amat penting.Bagi kaum Muslimin di Provinsi Jawa Tengah, khususnya wilayah eks Karesidenan Kedu, Bedug Kyai Bagelen atau populer juga disebut Bedug Pendowo bukanlah nama yang asing lagi. Alat penanda sholat itu menjadi amat tersohor karena memiliki beberapa keistimewaan dibandingkan bedug pada umumnya. Dari wujud fisiknya, Bedug Kyai Bagelan dikatakan sebagai bedug terbesar di dunia.
Sementara dari aspek sejarah, bedug tersebut telah memberikan kontribusi penting bagi syiar-syiar Islam yang dilakukan dari satu generasi ke generasi lain di Kabupaten Purworejo sejak abad ke-19. Bedug Kyai Bagelen terletak di Masjid Agung Kauman, sebelah barat alun-alun Purworejo. Bedug ini umurnya hampir dua abad karena dibuat pada masa pemerintahan Bupati Purworejo pertama, Raden Cokronegoro I.
Kendati umurnya sudah tua, namun bedug tersebut tetap menjadi warisan budaya Islam yang menganggumkan banyak orang. Faktanya, selama bulan Ramadan ini, tak sedikit wisatawan dari luar kota yang sengaja datang ke Purworejo untuk melihat langsung bedug tersebut.
Misalnya rombongan yang dipimpin Abdul Muin dari Demak. Rabu (19/9) sore dia singgah di masjid tersebut untuk sholat ashar. “Tadi pagi ada acara di Purwokerto. Kami memang sengaja mampir sini untuk melihat bedug pendowo,” ujarnya menambahkan rombongannya dua mobil yang semuanya saudara sendiri.
Sejarah pembuatan Bedug Kyai Bagelen bisa ditelusuri dari sejarah berdirinya masjid agung yang menempati tanah wakaf seluas kurang lebih 70 x 80 m2 dengan ukuran 21 x 22 m2 ditambah gandok berukuran ± 10 x 21 m2.
Menurut catatan sejarah, setelah berakhirnya Perang Diponegoro (1825-1830), Pemerintah Hindia Belanda merasa perlu mengangkat pemimpin dari kalangan pribumi untuk memerintah wilayah Tanah Bagelen (Purworejo sekarang). Sebagai Bupati kemudian diangkat Kangjeng Raden Tumenggung Cokronegoro I dan jabatan pepatih (pembantu Bupati) dipercayakan kepada Raden Cokrojoyo.
Pada masa pemerintahan Bupati Cokro I inilah masjid agung tersebut dibangun. Berdasarkan tulisan dalam prasasti yang ditempelkan di atas pintu utamanya, pembangunannya selesai tahun Jawa 1762 atau tahun 1834 Masehi. Setelah pembangunan selesai, Bupati Cokronegoro I memiliki gagasan untuk melengkapinya dengan sebuah bedug yang harus dibuat istimewa sehingga menjadi tanda peringatan di kemudian hari.
Adik Bupati, Mas Tumenggung Prawironegoro Wedana Bragolan menyarankan agar bahan bedug dibuat dari pangkal (bongkot) pohon Jati. Pohon jati tadi sesungguhnya diambil dari Dusun Pendowo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Dari cerita lisan yang turun temurun, pohon-pohon jati yang terdapat di Dusun Pendowo telah berusia ratusan tahun dengan ukuran besar-besar, bahkan ada yang bercabang lima.
Dalam ilmu kejawen, pohon-pohon jati besar bercabang lima yang disebut Pendowo mengandung sifat perkasa dan berwibawa. Pembuatan Bedug yang dikenal sebagai Bedug Kyai Bagelen (Bedug Pendhawa) ini diperkirakan dilakukan pada tahun jawa 1762 atau tahun 1834 masehi bersamaan dengan selesainya pendirian bangunan Masjid Agung.
Pemindahan
Ada persoalan baru ketika bedug selesai dibuat, yakni pemindahan dari Dusun Pendowo (Jenar) ke Kota Purworejo yang jaraknya sekitar 9 KM dengan kondisi jalan yang sangat sukar dilalui. Bupati Cokronegoro I atas usul adiknya Raden Tumenggung Prawironegoro mengangkat Kyai Haji Muhammad Irsyad yang menjabat sebagai Kaum (Lebai/Naib) di desa Solotiyang, Kecamatan Loano untuk memimpin proyek pemindahan Bedug Kyai Bagelan.
Pemindahannya dilakukan oleh para pekerja yang mengangkatnya secara beramai-ramai diiringi bunyi gamelan lengkap dengan penari tayub yang telah menanti di setiap pos perhentian. Akhirnya setelah melalui perjalanan yang jauh dan melelahkan, Bedug Kyai Bagelen tiba di Masjid Agung Kabupaten Purworejo.
Bedug tersebuti mula-mula ditutupi bahan dari kulit banteng. Akan tetapi, setelah 102 tahun kemudian (3 mei 1936) kulit bedug bagian belakang mengalami kerusakan sehingga diganti dengan kulit sapi ongale (benggala) dan sapi pemacek yang berasal dari Desa Winong, Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo.
Di bagian di pasang sebuah gong besar yang berfungsi untuk menambah getaran dan bunyi (anggreng). Kini, Bedug kyai Bagelen diletakkan di sebelah dalam serambi masjid. Jika Anda ingin mendengar suaranya, datanglah pada saat Ashar, Maghrib, Isya, Subuh dan menjelang shalat Jumat.
Di samping itu, pada setiap saat menjelang sholat Sunat Idul Fitri dan Idul Adha, acara-acara atau peristiwa-peristiwa keagamaan Islam dan memperingati detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Bedug Kyai Bagelen selalu ditabuh untuk memberi tanda dan penghormatan.
( nur kholiq/cn05 )














