Sabtu, 24 November 2012


03 Oktober 2010 | 13:35 wib
Tertinggal Kereta Api, Bocah 11 Tahun Terlantar
 0
 
  0
image
Purworejo, CyberNews. Nasib menyedihkan dialami Dedi Kurnia Pratama (11), warga Kampung Bumisari RT 01 RW 04 Jakarta Timur. Bocah ini tertinggal kereta api saat melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya bersama bapaknya, Joko Iswanto (47).
Ironisnya, orang tua si bocah tidak mencarinya. Akhirnya siswa kelas V SD Purbabaru ini diasuh oleh keluarga pasangan suami istri Suleman (45) dan Anisah (37), warga RT 01 RW 01 Dusun Talun, Desa Purwosari, Kecamatan Kutoarjo, Purworejo. Bahkan Dedi sudah kerasan dan menolak dikembalikan ke keluarganya.
Anisah yang ditemui wartawan di rumahnya, Minggu (3/10) menceritakan, Dedi tertinggal kereta yang ditumpanginya saat berhenti di stasiun Kutoarjo Jumat (24/9) lalu. Berdasarkan keterangan yang disampaikan Dedi, saat kereta yang ditumpanginya berhenti, Joko Iswanto yang merupakan bapak tirinya meminta dia turun untuk membeli minuman.
Dedi menurut saja dan turun membeli minuman ke pedagang yang berjualan di sekitar stasiun. Naas saat kembali kereta sudah berangkat. Tanpa tahu tujuan ke mana, Dedi asal berjalan saja keluar dari komplek stasiun dan menuju ke arah barat. "Saat dia keluar stasiun, hujan lebat sekali tapi dia tidak menghiraukannya," cerita Anisah.
Sesampainya di pertigaan perlintasan kereta api SMA PMB, Dedi berbelok ke kiri dan terus berjalan melewati Desa Suren, Kutoarjo hingga akhirnya sampai di tugu Desa Purwosari. Jaraknya dari stasiun sekitar 4 KM.
Di dekat tugu Desa Purwosari itu, Dedi yang masih kehujanan hanya terdiam menggigil kedinginan. Hingga akhirnya warga setempat Khuzaimah (60) menawarkannya untuk mengantarkan pulang. "Tapi dia hanya diam karena tidak tahu maksudnya karena saat menawarkan lek Khuzaimah menggunakan bahasa Jawa. Padahal Dedi tidak bisa bahasa Jawa," katanya.
Selanjutnya Dedi diajak pulang oleh Khuzaimah dan sempat menginap semalam. Penemuan bocah terlantar itu kemudian disampaikan Khuzaimah ke keponakannya Anisah. Anak bungsu Anisah, Dwi Rahmat (14) akhirnya menyusul ke rumah Khuzaimah dan mengajaknya main ke rumah.
Saat sampai di rumah keluarga Anisah, Dedi malah merasa kerasan. Beberapa kali ditawari untuk diantarkan pulang ke Jakarta dia menolaknya. Dedi bahkan mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya itu. "Dia malah minta sekolah dan sekarang sudah ikut mengaji di mushola," katanya.
Meski sudah seminggu lebih, keluarga Anisah tidak pernah dihubungi orang tua Dedi. Padahal kabar itu sudah beredar luar. Untuk menjaga keamanan, Anisah dan suaminya akhirnya meminta surat keterangan dari pihak desa bahwa anak tersebut terlantar kemudian diasuh.
Kepada wartawan Dedi menceritakan, ibu kandungnya Ulfah bekerja sebagai TKI di Taiwan. Dia memiliki seorang kakak bernama Alvin yang bekerja di Bogor. Dia juga punya kakek nenek bernama Sudiman dan Maryam. Bapak kandungnya telah meninggal karena serangan penyakit jantung. Perjalananannya bersama bapak tirinya yang ke Surabaya karena dia diajak pindah rumah. Bapaknya sehari-hari bekerja sebagai sopir truk.
Anisah mengatakan, keluarganya tidak keberatan jika Dedi tidak bersedia pulang dan ingin tetap tinggal di rumahnya. Namun, dia berharap bisa menemukan keluarganya supaya ada kejelasan karena bagaimanapun juga keluarganya, terutama kakek dan neneknya pasti kaget bila mengetahui cucunya terlantar.
"Kami sedang berusaha menemukan alamat keluarganya di Jakarta. Kebetulan anak saya kerja di Jakarta dan terus mencarinya. Kata Dedi, rumahnya tidak jauh dari pangkalan udara Halim Perdana Kusuma," tandasnya.
( Nur Kholiq / CN12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Assalamualaikum dumateng panjenengan sing gadhah pawartos seputar suren monggo dipun email teng desasuren@gmail.com supados rencang rencang saged maos lan samangke bade kulo unggah wonten blog niki. maturnuwun. admin