Selasa, 20 November 2012



50 Tahun Bergelut Dengan Bara Api

Suara talu, thak......thek...... thok, dari para pande besi (perajin benda-benda tajam) di Desa Suren Kecamatan Kutoarjo, terdengar hampir setiap hari, dari pagi hingga sore bahkan malam hari. Bagi warga Surensuara tersebut tidak dirasa sebagai sesuatu yang mengganggu, karena sudah biasa didengar setiap hari. ”Bahkan kalau tidak mendengar suara itu, rasanya sedih, karena para perajin tidak bekerja yang otomatis tidak mendapat penghasilan,” kata Tini salah seorang warga setempat.
Di desa tersebut, sedikitnya ada 30 pande besi yang masih aktif. Yang tertua adalah milik Mbah Raji (74), yang berdiri sejak tahun 1960. “Sebetulnya tahun 1960 saya diterima menjadi anggota Brimob di Kalimantan, karena orang tua tidak mengijinkan sehingga niat itu digagalkan, dan disuruh membantu menjadi pande besi sampai sekarang,”ungkapnya.
Meskipun umurnya sudah 74 tahun, semangat untuk bekerja masih tetap tinggi. Dengan dibantu 5 orang tenaga kerja, satu hari bisa menghasilkan sekitar 20 sampai 30 sabit (arit ). Hasil kerajinan dari Mbah Raji kebanyakan sudah dipesan oleh tengkulak dari Cilacap dan Prembun. Bahkan saat ini sedang memenuhi pesanan dari Kalimantan berupa sabit dan dodos ( alat untuk memanen kelapa sawit ) sebanyak 1.500 buah. ”Sebetulnya untuk jumlah tidak masalah, berapapun akan diterima dan dibeli, namun kemampuan kami yang terbatas sehingga jumlahnya kami batasi,”ungkapnya.
Bahan baku berupa besi diperoleh dari Semarang. Satu kilogram besi rongsok dibeli dengan harga Rp 8.000. Dari satu kilogram besi kalau dibuat sabit bisa menjadi dua buah. Satu buah sabit dijual dengan harga Rp 30.000. Kalau dihitung-hitung satu hari bisa menghasilkan Rp 500.000, belum termasuk ongkos tenaga kerja.
Dari 5 tenaga yang ada, tugasnya sudah dibagi-bagi menurut kebutuhan. Ada yang membakar besi, menempa besi setelah di bakar, menghaluskan pakai grinda dan yang terakhir finising berupa pengikiran di bagian depan. Honornya juga berfariasi sesuai dengan bidangnya masing-masing.
MenuruMbah Raji, pande besi di Suren sebetulnya cukup banyak. Lama-lama ada yang meninggalkan profesinya, karenakesulitan bahan baku dan tenaga kerja. “Anak-anak muda sekarang lebih senang mencari kerja di luar daerah seperti Jakarta,Bandung, Surabaya dan kota besar yang lain, ketimbang kerja di desanya menjadi pande besi. Apalagi sekarang banyak generasi muda yang bisa melanjutkan sekolah di perguruan tinggi dan bisa lulus menjadi sarjana,” katanya.
Ia berharap adanya bantuan peralatan dari pemerintah. Sementara ini peralatan yang di pakai masih alat tradisional yang dibuat sendiri. Alat-alat tersebut saat ini kondisinya juga sudah rusak karena di makan usia. www.purworejokab.go.id


Assalamualaikum dumateng panjenengan sing gadhah pawartos seputar suren monggo dipun email teng desasuren@gmail.com supados rencang rencang saged maos lan samangke bade kulo unggah wonten blog niki. maturnuwun. admin