Harian Suara Merdeka Senin, 26 Februari 2007 : 18.10 WIB
Menengok Sentra Pande Besi Suren
Kerajinan Turun-Temurun Sejak Ratusan Tahun (1)
![]() |
| Seorang pande besi sedang membuat kerajinan pisau di Desa Suren, Kutoarjo, Purworejo. Kerajinan besi ini merupakan turunan dan sudah ada sejak ratusan tahun. (Foto SM CyberNews/Nur Kholiq) |
Purworejo, CyberNews. Kabupaten Purworejo memiliki potensi kerajinan besi yang cukup prospektif jika dikembangkan. Kerajinan berupa alat-alat pertanian yang terbuat dari besi ini terpusat di Desa Suren, Kecamatan Kutoarjo.
Desa Suren secara administratif merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Kutoarjo. Letaknya sekitar 15 KM dari pusat ibukota Kabupaten Purworejo. Secara geografis kewilayahan, desa Suren terbagi menjadi 6 dusun atau 6 RW, 25 RT dan 74 dasawisma. Luas wilayah desa Suren kurang lebih 242,348 hektar, dengan mata pencaharian mayoritas penduduk desa Suren adalah petani.
Pelacakan akar sejarah asal-usul desa Suren berawal dari beberapa penggalan kisah ekspansi kolonialisme Belanda pada episode heroik Kerajaan Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat yang mengakibatkan tercerai-berainya prajurit karena kewalahan dan lari menjauhi tlatah kraton. Konon, ada salah satu prajurit pelarian itu yang menuju arah Barat, menelusuri rute napak tilas perjalanan pasukan Sultan Agung melawan VOC, kemudian singgah di sebuah daerah, yakni Suren.
Menurut warga setempat, manusia pertama yang mewariskan silsilah kepemimpinan desa Suren tak lain adalah prajurit Mataram yang disebut di atas. Dia bernama Suro Yudho (Suro berarti berani dan Yudho berarti perang). Dia menetap dan menikahi perempuan setempat dan akhirnya berhasil membangun daerah ini menjadi surga agraris hingga namanya diabadikan menjadi nama desa.
Selain pertanian, potensi ekonomi yang ikut menopang Desa Suren adalah kerajinan pande besi. Dalam versi sejarah Desa Suren, aktivitas pande besi ini mewarisi salah satu keahlian tokoh Empu Suro yang diyakini kesaktiannya dan mumpuni dalam membuat keris. Aktivitas pande besi ini masih terus berlangsung hingga saat ini.
"Pande besi ini merupakan kerajinan turun-temurun dan sudah ada sejak ratusan tahun lalu," ujar salah satu pande besi Sonto Wiryo (60), warga Dusun Poncolan, Desa Sucen saat ditemui di rumahnya Senin (26/2).
Sonto menjadi pande besi sejak tahun 1963. Dalam keluarganya ia merupakan generasi keempat mewarisi keahlian buyutnya yang diwariskan ke kakeknya kemudian ke ayahnya hingga dia sendiri yang mulai mewariskan kepada anaknya. "Belajar menjadi pande besi sebenarnya tidak sulit. Tidak sampai satu bulan asalkan tekun pasti bisa," katanya.
Produk kerajinan besi yang dibuat sebagian besar adalah alat-alat pertanian, antara lain sabit, cangkul, clurit, bendo, kapak, pisau dan lain-lain. Dalam beberapa tahun terakhir, para perajin mulai berinovasi memodifikasi bentuk produk sehingga tidak monoton bentuk konvensional.
Pande besi lainnya, Sayoto (57) menjelaskan, proses produksinya dimulai dari pencarian bahan baku berupa besi bekas per mobil dan besi bekas rangka jembatan. Harga per biasanya dijual pengepul sebesar Rp 42.000/kg, sedangkan besi bekas rangka jembatan Rp 32.000/kg.
Besi bekas itu selanjutya dibelah menjadi bentuk dasar produk yang diinginkan. Kemudian dibakar menggunakan bara arang yang dibuat menggunakan tiupan angin dari blower. "Alatblower ini baru. Dulu menggunakan ubupan yang cara kerjanya manual," katanya.
Setelah besi dibakar dan membara, selanjutnya dibentuk sesuai keinginan. Pada proses ini tidak mudah karena membutuhkan tenaga minimal tiga orang. Satu orang memegang besi bara menggunakan tang perantara dan dua lainnya bertugas menggembleng untuk membentuknya.
"Kalau belum bisa tidak akan jadi. Karena proses ini menentukan kualitas produknya apakah pembakarannya sudah tua atau belum. Juga mempengarui ketajamannya," jelasnya.
Setelah proses ini, produk belum sepenuhnya jadi. Proses selanjutnya adalah penyepuhan untuk menjamin ketajamannya. Kemudian dilakukan finishing menggunakan gerenda sampai hasilnya halus dan siap dipasarkan. "Proses finishing ini biasanya dilakukan kaum perempuan yang juga mulai ikut menekuni kerajinan ini," katanya.
( nur kholiq/cn05 )
Purworejo, CyberNews. Para pande besi di Desa Suren, Kecamatan Kutoarjo, Purworejo dalam sehari rata-rata mampu memproduksi 40 hingga 50 alat pertanian meliputi cangkul, sabit, pisau, bendo, kapak, dan clurit, dan lain-lain. Setiap produk dijual dengan harga berkisar Rp 10.000 hingga 12.000 tergantung tingkat kesulitan pembuatannya."Setiap lima hari sekali saya menyetor barang ke pengepul. Dari buyut saya sampai sekarang belum pernah memasarkan produk sendiri. Semua dijual ke pengepul," ujar salah seorang pande besi, Sonto Wiryo (60).
Dijelaskan Sonto, sebenarnya keuntungan yang diperoleh perajin akan lebih banyak jika bisa dipasarkan sendiri tanpa melalui pengepul. Sayang sekali sebagian besar perajin tidak memiliki akses pasar yang luas lantaran keterbatasan modal dan kemampuan.
Ia mencontohkan dirinya yang dari dulu hanya menjual produknya kepada pengepul di pasar Cilacap. Hal yang sama juga dialami para perajin yang hanya mampu mengakses pasar-pasar lokal, antara lain Kutoarjo, Purworejo, dan sebagian di pasar daerah sekitar seperti Kebumen, Temanggung, dan Wonosobo. Itu pun mewaris dari generasi sebelumnya.
"Pesanan dari berbagai daerah sebenarnya cukup banyak. Misalnya dari Sumatera. Namun tidak ada modalnya karena pesanan itu biasanya ditarget," ungkap Sonto. Akhirnya peluang itu jatuh ke tangan pengepul yang memiliki modal lebih besar.
Pande besi lainnya, Sayoto (57) mengungkapkan, para perajin membutuhkan pinjaman modal lunak untuk mengembangkan pemasaran produk. Termasuk memerlukan pembinaan manajemen pengelolaan usaha agar lebih kreatif dan inovatif, sehingga bisa mengakses pasar yang lebih luas.
Pada dekade 1980-an, sejumlah perajin memperoleh pelatihan usaha di Kabupaten Wonosobo. Namun pelatihan itu tidak berlanjut sampai sekarang. Sebuah koperasi usaha juga sudah didirikan. Sayang sekali kondisinya sekarang mati suri lantaran kurang dikelola secara professional.
Sonto tidak menampik bahwa Pemkab Purworejo telah beberapa kali memberikan pinjaman modal yang disalurkan melalui koperasi. Baik berbentuk bahan baku maupun dana chas. Namun pinjaman itu tidak merata lantaran jumlahnya terbatas. Akhirnya untuk mempertahankan usaha, tidak sedikit para perajin meminjam modal dari bank yang bunganya lumayan tinggi.
Ia berharap Pemkab Purworejo memberikan pinjaman modal dengan bunga lunak serta memberikan pelatihan manajemen usaha agar para perajin bisa mengakses pasar yang lebih luas.
Terancam punah
Persoalan lain diungkapkan pande besi Ngadino (29). Ia mengkhawatirkan aktivitas pande besi di Desa Suren terancam punah seiring dengan menurunnya minat generasi sekarang untuk menekuni kerajinan ini. Katanya, para pemuda di Desa Suren lebih memilih merantau ke luar kota daripada menjadi pande besi. "Mungkin dipikir hasilnya tidak seberapa tapi kerjanya susah," ujar pemuda yang masih menekuni kerajinan warisan nenek moyangnya ini.
Diperkirakan, jumlah perajin di Desa Suren sekarang ini tinggal 35 orang dengan tenaga kerja yang terserap hanya sekitar 150 orang. Sebagian besar adalah orang tua yang merupakan generasi lama. Hanya sebagian kecil pemuda yang masih setia menekuni kerajinan ini. Mereka merupakan generasi yang sadar akan pentingnya melestarikan usaha warisan leluhur.
( nur kholiq/cn05 )
Menengok Sentra Pande Besi Suren (2-Habis)
Modal Terbatas, Pemasaran Produk Tidak Luas
Modal Terbatas, Pemasaran Produk Tidak Luas
![]() |
| Ngadino (28) adalah pande besi muda di Desa Suren yang masih bersedia melestarikan usaha warisan nenek moyangnya. (Foto SM CyberNews/Nur Kholiq) |
Dijelaskan Sonto, sebenarnya keuntungan yang diperoleh perajin akan lebih banyak jika bisa dipasarkan sendiri tanpa melalui pengepul. Sayang sekali sebagian besar perajin tidak memiliki akses pasar yang luas lantaran keterbatasan modal dan kemampuan.
Ia mencontohkan dirinya yang dari dulu hanya menjual produknya kepada pengepul di pasar Cilacap. Hal yang sama juga dialami para perajin yang hanya mampu mengakses pasar-pasar lokal, antara lain Kutoarjo, Purworejo, dan sebagian di pasar daerah sekitar seperti Kebumen, Temanggung, dan Wonosobo. Itu pun mewaris dari generasi sebelumnya.
"Pesanan dari berbagai daerah sebenarnya cukup banyak. Misalnya dari Sumatera. Namun tidak ada modalnya karena pesanan itu biasanya ditarget," ungkap Sonto. Akhirnya peluang itu jatuh ke tangan pengepul yang memiliki modal lebih besar.
Pande besi lainnya, Sayoto (57) mengungkapkan, para perajin membutuhkan pinjaman modal lunak untuk mengembangkan pemasaran produk. Termasuk memerlukan pembinaan manajemen pengelolaan usaha agar lebih kreatif dan inovatif, sehingga bisa mengakses pasar yang lebih luas.
Pada dekade 1980-an, sejumlah perajin memperoleh pelatihan usaha di Kabupaten Wonosobo. Namun pelatihan itu tidak berlanjut sampai sekarang. Sebuah koperasi usaha juga sudah didirikan. Sayang sekali kondisinya sekarang mati suri lantaran kurang dikelola secara professional.
Sonto tidak menampik bahwa Pemkab Purworejo telah beberapa kali memberikan pinjaman modal yang disalurkan melalui koperasi. Baik berbentuk bahan baku maupun dana chas. Namun pinjaman itu tidak merata lantaran jumlahnya terbatas. Akhirnya untuk mempertahankan usaha, tidak sedikit para perajin meminjam modal dari bank yang bunganya lumayan tinggi.
Ia berharap Pemkab Purworejo memberikan pinjaman modal dengan bunga lunak serta memberikan pelatihan manajemen usaha agar para perajin bisa mengakses pasar yang lebih luas.
Terancam punah
Persoalan lain diungkapkan pande besi Ngadino (29). Ia mengkhawatirkan aktivitas pande besi di Desa Suren terancam punah seiring dengan menurunnya minat generasi sekarang untuk menekuni kerajinan ini. Katanya, para pemuda di Desa Suren lebih memilih merantau ke luar kota daripada menjadi pande besi. "Mungkin dipikir hasilnya tidak seberapa tapi kerjanya susah," ujar pemuda yang masih menekuni kerajinan warisan nenek moyangnya ini.
Diperkirakan, jumlah perajin di Desa Suren sekarang ini tinggal 35 orang dengan tenaga kerja yang terserap hanya sekitar 150 orang. Sebagian besar adalah orang tua yang merupakan generasi lama. Hanya sebagian kecil pemuda yang masih setia menekuni kerajinan ini. Mereka merupakan generasi yang sadar akan pentingnya melestarikan usaha warisan leluhur.
( nur kholiq/cn05 )


Tidak ada komentar:
Posting Komentar