Rabu, 31 Oktober 2012


Harian Kedaulatan Rakyat

Pande Besi Suren Kembangkan Sayap


Ivan Aditya | Rabu, 1 Februari 2012 | 20:08 WIB | Dibaca: 246 | Komentar: 0


Pengrajin pande besi di Desa Suren Purworejo. (Foto : Gunarwan)
PURWOREJO (KRjogja.com) - Sebagai sentra industri pande besi, para pengrajin Desa Suren Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo kini berupaya mengembangkan sayap usahanya dengan melakukan kemitraan dengan pengrajin di luar Purworejo. Terutama kerjasama untuk mendapatkan bahan baku, pemasaran dan teknik pembuatan.
“Kita upayakan untuk melakukan berbagai studi banding ke daerah lain, untuk menjalin kemitraan,” kata Kepala Bidang Perindustrian Pertambangan dan Energi pada Dinas Perindustrian Perdaganan dan Koperasi (Diperindagkop) Purworejo Ir Subagiyo MSi, Rabu (1/2).
Kemitraan ini dinilai penting karena jumlah pengrajin di Desa Suren cukup banyak dan selama ini sudah menjadi mata pencaharian sebagian besar warga desa itu. Terlebih industri rumahan ini sudah berjalan sejak nenek moyang mereka sehingga perlu dipertahankan.
“Hanya kita upayakan agar produk mereka semakin berkualitas dan pemasaran lebih luas, disamping kemudahan dalam mendapatkan bahan baku,” kata Subagio seraya menambahkan, pande besi Desa Suren itu selama ini memproduksi berbagai alat pertanian seperti cangkul, sabit dan lainnya.
Langkah awal untuk mengembangkan sayap usaha ini lanjut Subagio, sebanyak 29 pengrajin pande besi telah melakukan studi banding ke Desa Bonyokan Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten. Mereka didampingi sejumlah perangkat desa dan petugas dari Diperindagkop.
“Kita pilih Klaten karena pande besi di sana sudah menjadi salah satu unggulan, dan hasil produksinya bagus,” jelas Subagio.
Hanya saja lanjut Subagio, para pengrahin pande besi di Suren hingga kini masih dilakuan secara induvidu, belum terbentuk kelompok usaha atau koperasi. “Kedepan mereka akan segera membentuk koperasi untuk mengembangkan usahanya,” jelas Subagio.(Nar)

Berita Lain
Purworejo, CyberNews. Para perajin logam atau pande besi di Kabupaten Purworejo mengeluhkan kenaikan biaya produksi yang terjadi belakangan ini. Sebab, kenaikan itu segera diikuti dengan kenaikan bahan baku logam sehingga membuat perajin khawatir akan terancam gulung tikar.
Sejumlah perajin logam yang biasa membuat sabit, cangkul, kapak, dan peralatan pertanian lainnya yang ditemui di Desa Suren, Kecamatan Kutoarjo mengatakan, beberapa komponen produksi yang naik harganya antara lain upah pekerja dari Rp 30 ribu menjadi Rp 35 ribu per hari.
Upah itu masih di luar jatah makan, rokok, dan kopi selama bekerja seharian. "Sejak Januari, para pekerja minta upah naik. Jika tidak, mereka memilih tidak menempa besi," ujar Sartono, salah satu perajin logam.
Selain kenaikan biaya tenaga kerja, lonjakan juga terjadi pada bahan baku arang kayu. Tiga bulan lalu arang kayu masih bisa dibeli perajin dengan harga Rp 25 ribu setiap karung. Namun, kini naik menjadi Rp 26 ribu setiap karung berisi sekitar 15 kilogram arang.
Meski lonjakanya sedikit, namun perajin mengaku kewalahan. Pasalnya, kebutuhan arang kayu setiap hari mencapai minimal lima karung. "Setiap karungnya sudah naik, total setiap hari biaya untuk arang saja sudah mencapai Rp 75 ribu," ujarnya.
Poniso, perajin logam di Kalisemo Kecamatan Loano mengaku khawatir kenaikan kedua komponen itu akan diikuti dengan melonjaknya harga logam. Harga baja saat ini mencapai Rp 9.000 per kilogram, sedangkan besi dibeli seharga Rp 8.000. "Setahun terakhir, harga kedua komponen bahan baku itu stabil," tuturnya.
Ditambahkan, dengan kapasitas produksi 30 buah sabit, seorang pande besi dengan dua buruh penempa harus mengeluarkan biaya sedikitya Rp 515 ribu. Sabit setengah jadi buatan perajin dijual dengan harga Rp 18 ribu sebuah, dengan total pendapatan Rp 540 ribu. Sehari, seorang pande besi hanya mendapat keuntungan Rp 25 ribu.
Perajin di Dusun Pandean Kutoarjo, Hadi menambahkan, perajin juga mengalami kesulitan menaikkan harga jual. Kenaikan harga akan membuat produk buatan perajin kalah bersaing. "Kami bersaing dengan perajin asal Klaten, Wonosobo, bahkan Lampung," ungkapnya.
Perajin juga terkendala sering terjadinya pemadaman listrik secara mendadak. Pemadaman tersebut mengakibatkan mereka merugi lantaran tidak bisa berproduksi namun tetap membayar biaya tenaga kerja. "Tahun lalu, sering terjadi pemadaman listrik, sehingga mesin blower kami tidak bisa dinyalakan," tandasnya. 

( Nur Kholiq / CN28 / JBSM

Harian Suara Merdeka Senin, 26 Februari 2007 : 18.10 WIB
Menengok Sentra Pande Besi Suren 
Kerajinan Turun-Temurun Sejak Ratusan Tahun (1)
Seorang pande besi sedang membuat kerajinan pisau di Desa Suren, Kutoarjo, Purworejo. Kerajinan besi ini merupakan turunan dan sudah ada sejak ratusan tahun. (Foto SM CyberNews/Nur Kholiq)

Purworejo, CyberNews. Kabupaten Purworejo memiliki potensi kerajinan besi yang cukup prospektif jika dikembangkan. Kerajinan berupa alat-alat pertanian yang terbuat dari besi ini terpusat di Desa Suren, Kecamatan Kutoarjo.


Desa Suren secara administratif merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Kutoarjo. Letaknya sekitar 15 KM dari pusat ibukota Kabupaten Purworejo. Secara geografis kewilayahan, desa Suren terbagi menjadi 6 dusun atau 6 RW, 25 RT dan 74 dasawisma. Luas wilayah desa Suren kurang lebih 242,348 hektar, dengan mata pencaharian mayoritas penduduk desa Suren adalah petani.

Pelacakan akar sejarah asal-usul desa Suren berawal dari beberapa penggalan kisah ekspansi kolonialisme Belanda pada episode heroik Kerajaan Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat yang mengakibatkan tercerai-berainya prajurit karena kewalahan dan lari menjauhi tlatah kraton. Konon, ada salah satu prajurit pelarian itu yang menuju arah Barat, menelusuri rute napak tilas perjalanan pasukan Sultan Agung melawan VOC, kemudian singgah di sebuah daerah, yakni Suren.

Menurut warga setempat, manusia pertama yang mewariskan silsilah kepemimpinan desa Suren tak lain adalah prajurit Mataram yang disebut di atas. Dia bernama Suro Yudho (Suro berarti berani dan Yudho berarti perang). Dia menetap dan menikahi perempuan setempat dan akhirnya berhasil membangun daerah ini menjadi surga agraris hingga namanya diabadikan menjadi nama desa.

Selain pertanian, potensi ekonomi yang ikut menopang Desa Suren adalah kerajinan pande besi. Dalam versi sejarah Desa Suren, aktivitas pande besi ini mewarisi salah satu keahlian tokoh Empu Suro yang diyakini kesaktiannya dan mumpuni dalam membuat keris. Aktivitas pande besi ini masih terus berlangsung hingga saat ini.

"Pande besi ini merupakan kerajinan turun-temurun dan sudah ada sejak ratusan tahun lalu," ujar salah satu pande besi Sonto Wiryo (60), warga Dusun Poncolan, Desa Sucen saat ditemui di rumahnya Senin (26/2).

Sonto menjadi pande besi sejak tahun 1963. Dalam keluarganya ia merupakan generasi keempat mewarisi keahlian buyutnya yang diwariskan ke kakeknya kemudian ke ayahnya hingga dia sendiri yang mulai mewariskan kepada anaknya. "Belajar menjadi pande besi sebenarnya tidak sulit. Tidak sampai satu bulan asalkan tekun pasti bisa," katanya.

Produk kerajinan besi yang dibuat sebagian besar adalah alat-alat pertanian, antara lain sabit, cangkul, clurit, bendo, kapak, pisau dan lain-lain. Dalam beberapa tahun terakhir, para perajin mulai berinovasi memodifikasi bentuk produk sehingga tidak monoton bentuk konvensional.

Pande besi lainnya, Sayoto (57) menjelaskan, proses produksinya dimulai dari pencarian bahan baku berupa besi bekas per mobil dan besi bekas rangka jembatan. Harga per biasanya dijual pengepul sebesar Rp 42.000/kg, sedangkan besi bekas rangka jembatan Rp 32.000/kg.

Besi bekas itu selanjutya dibelah menjadi bentuk dasar produk yang diinginkan. Kemudian dibakar menggunakan bara arang yang dibuat menggunakan tiupan angin dari blower. "Alatblower ini baru. Dulu menggunakan ubupan yang cara kerjanya manual," katanya.

Setelah besi dibakar dan membara, selanjutnya dibentuk sesuai keinginan. Pada proses ini tidak mudah karena membutuhkan tenaga minimal tiga orang. Satu orang memegang besi bara menggunakan tang perantara dan dua lainnya bertugas menggembleng untuk membentuknya.
"Kalau belum bisa tidak akan jadi. Karena proses ini menentukan kualitas produknya apakah pembakarannya sudah tua atau belum. Juga mempengarui ketajamannya," jelasnya.

Setelah proses ini, produk belum sepenuhnya jadi. Proses selanjutnya adalah penyepuhan untuk menjamin ketajamannya. Kemudian dilakukan finishing menggunakan gerenda sampai hasilnya halus dan siap dipasarkan. "Proses finishing ini biasanya dilakukan kaum perempuan yang juga mulai ikut menekuni kerajinan ini," katanya.
nur kholiq/cn05 )


Menengok Sentra Pande Besi Suren (2-Habis)
Modal Terbatas, Pemasaran Produk Tidak Luas
Ngadino (28) adalah pande besi muda di Desa Suren yang masih bersedia melestarikan usaha warisan nenek moyangnya. (Foto SM CyberNews/Nur Kholiq)
Purworejo, CyberNews. Para pande besi di Desa Suren, Kecamatan Kutoarjo, Purworejo dalam sehari rata-rata mampu memproduksi 40 hingga 50 alat pertanian meliputi cangkul, sabit, pisau, bendo, kapak, dan clurit, dan lain-lain. Setiap produk dijual dengan harga berkisar Rp 10.000 hingga 12.000 tergantung tingkat kesulitan pembuatannya."Setiap lima hari sekali saya menyetor barang ke pengepul. Dari buyut saya sampai sekarang  belum pernah memasarkan produk sendiri. Semua dijual ke pengepul," ujar salah seorang pande besi, Sonto Wiryo (60).
Dijelaskan Sonto, sebenarnya keuntungan yang diperoleh perajin akan lebih banyak jika bisa dipasarkan sendiri tanpa melalui pengepul. Sayang sekali sebagian besar perajin tidak memiliki akses pasar yang luas lantaran keterbatasan modal dan kemampuan.
Ia mencontohkan dirinya yang dari dulu hanya menjual produknya kepada pengepul di pasar Cilacap. Hal yang sama juga dialami para perajin yang hanya mampu mengakses pasar-pasar lokal, antara lain Kutoarjo, Purworejo, dan sebagian di pasar daerah sekitar seperti Kebumen, Temanggung, dan Wonosobo. Itu pun mewaris dari generasi sebelumnya.
"Pesanan dari berbagai daerah sebenarnya cukup banyak. Misalnya dari Sumatera. Namun tidak ada modalnya karena pesanan itu biasanya ditarget," ungkap Sonto. Akhirnya peluang itu jatuh ke tangan pengepul yang memiliki modal lebih besar.
Pande besi lainnya, Sayoto (57) mengungkapkan, para perajin membutuhkan pinjaman modal lunak untuk mengembangkan pemasaran produk. Termasuk memerlukan pembinaan manajemen pengelolaan usaha agar lebih kreatif dan inovatif, sehingga bisa mengakses pasar yang lebih luas.
Pada dekade 1980-an, sejumlah perajin memperoleh pelatihan usaha di Kabupaten Wonosobo. Namun pelatihan itu tidak berlanjut sampai sekarang. Sebuah koperasi usaha juga sudah didirikan. Sayang sekali kondisinya sekarang mati suri lantaran kurang dikelola secara professional.
Sonto tidak menampik bahwa Pemkab Purworejo telah beberapa kali memberikan pinjaman modal yang disalurkan melalui koperasi. Baik berbentuk bahan baku maupun dana chas. Namun pinjaman itu tidak merata lantaran jumlahnya terbatas. Akhirnya untuk mempertahankan usaha, tidak sedikit para perajin meminjam modal dari bank yang bunganya lumayan tinggi.
Ia berharap Pemkab Purworejo memberikan pinjaman modal dengan bunga lunak serta memberikan pelatihan manajemen usaha agar para perajin bisa mengakses pasar yang lebih luas.
Terancam punah
Persoalan lain diungkapkan pande besi Ngadino (29). Ia mengkhawatirkan aktivitas pande besi di Desa Suren terancam punah seiring dengan menurunnya minat generasi sekarang untuk menekuni kerajinan ini. Katanya, para pemuda di Desa Suren lebih memilih merantau ke luar kota daripada menjadi pande besi. "Mungkin dipikir hasilnya tidak seberapa tapi kerjanya susah," ujar pemuda yang masih menekuni kerajinan warisan nenek moyangnya ini.
Diperkirakan, jumlah perajin di Desa Suren sekarang ini tinggal 35 orang dengan tenaga kerja yang terserap hanya sekitar 150 orang. Sebagian besar adalah orang tua yang merupakan generasi lama. Hanya sebagian kecil pemuda yang masih setia menekuni kerajinan ini. Mereka merupakan generasi yang sadar akan pentingnya melestarikan usaha warisan leluhur.
nur kholiq/cn05 ) 
NDESO SUREN KUTOARJO NDESO SING INDAH LAN NGANGENI

Nek aku krungu kata kata "suren" aku langsung kangen... karo swara deg dog deg dok pande wesi... Suren adalah desa di kecamatan KutoarjoPurworejoJawa TengahIndonesia
Opo sing dadi panjenengan pengin mulih kampung neng Suren?
Assalamualaikum dumateng panjenengan sing gadhah pawartos seputar suren monggo dipun email teng desasuren@gmail.com supados rencang rencang saged maos lan samangke bade kulo unggah wonten blog niki. maturnuwun. admin