Harian Kedaulatan Rakyat
Pande Besi Suren Kembangkan Sayap
Ivan Aditya | Rabu, 1 Februari 2012 | 20:08 WIB | Dibaca: 246 | Komentar: 0
PURWOREJO (KRjogja.com) - Sebagai sentra industri pande besi, para pengrajin Desa Suren Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo kini berupaya mengembangkan sayap usahanya dengan melakukan kemitraan dengan pengrajin di luar Purworejo. Terutama kerjasama untuk mendapatkan bahan baku, pemasaran dan teknik pembuatan.
“Kita upayakan untuk melakukan berbagai studi banding ke daerah lain, untuk menjalin kemitraan,” kata Kepala Bidang Perindustrian Pertambangan dan Energi pada Dinas Perindustrian Perdaganan dan Koperasi (Diperindagkop) Purworejo Ir Subagiyo MSi, Rabu (1/2).
Kemitraan ini dinilai penting karena jumlah pengrajin di Desa Suren cukup banyak dan selama ini sudah menjadi mata pencaharian sebagian besar warga desa itu. Terlebih industri rumahan ini sudah berjalan sejak nenek moyang mereka sehingga perlu dipertahankan.
“Hanya kita upayakan agar produk mereka semakin berkualitas dan pemasaran lebih luas, disamping kemudahan dalam mendapatkan bahan baku,” kata Subagio seraya menambahkan, pande besi Desa Suren itu selama ini memproduksi berbagai alat pertanian seperti cangkul, sabit dan lainnya.
Langkah awal untuk mengembangkan sayap usaha ini lanjut Subagio, sebanyak 29 pengrajin pande besi telah melakukan studi banding ke Desa Bonyokan Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten. Mereka didampingi sejumlah perangkat desa dan petugas dari Diperindagkop.
“Kita pilih Klaten karena pande besi di sana sudah menjadi salah satu unggulan, dan hasil produksinya bagus,” jelas Subagio.
Hanya saja lanjut Subagio, para pengrahin pande besi di Suren hingga kini masih dilakuan secara induvidu, belum terbentuk kelompok usaha atau koperasi. “Kedepan mereka akan segera membentuk koperasi untuk mengembangkan usahanya,” jelas Subagio.(Nar)
Berita Lain
Purworejo, CyberNews. Para perajin logam atau pande besi di Kabupaten Purworejo mengeluhkan kenaikan biaya produksi yang terjadi belakangan ini. Sebab, kenaikan itu segera diikuti dengan kenaikan bahan baku logam sehingga membuat perajin khawatir akan terancam gulung tikar.
Sejumlah perajin logam yang biasa membuat sabit, cangkul, kapak, dan peralatan pertanian lainnya yang ditemui di Desa Suren, Kecamatan Kutoarjo mengatakan, beberapa komponen produksi yang naik harganya antara lain upah pekerja dari Rp 30 ribu menjadi Rp 35 ribu per hari.
Upah itu masih di luar jatah makan, rokok, dan kopi selama bekerja seharian. "Sejak Januari, para pekerja minta upah naik. Jika tidak, mereka memilih tidak menempa besi," ujar Sartono, salah satu perajin logam.
Selain kenaikan biaya tenaga kerja, lonjakan juga terjadi pada bahan baku arang kayu. Tiga bulan lalu arang kayu masih bisa dibeli perajin dengan harga Rp 25 ribu setiap karung. Namun, kini naik menjadi Rp 26 ribu setiap karung berisi sekitar 15 kilogram arang.
Meski lonjakanya sedikit, namun perajin mengaku kewalahan. Pasalnya, kebutuhan arang kayu setiap hari mencapai minimal lima karung. "Setiap karungnya sudah naik, total setiap hari biaya untuk arang saja sudah mencapai Rp 75 ribu," ujarnya.
Poniso, perajin logam di Kalisemo Kecamatan Loano mengaku khawatir kenaikan kedua komponen itu akan diikuti dengan melonjaknya harga logam. Harga baja saat ini mencapai Rp 9.000 per kilogram, sedangkan besi dibeli seharga Rp 8.000. "Setahun terakhir, harga kedua komponen bahan baku itu stabil," tuturnya.
Ditambahkan, dengan kapasitas produksi 30 buah sabit, seorang pande besi dengan dua buruh penempa harus mengeluarkan biaya sedikitya Rp 515 ribu. Sabit setengah jadi buatan perajin dijual dengan harga Rp 18 ribu sebuah, dengan total pendapatan Rp 540 ribu. Sehari, seorang pande besi hanya mendapat keuntungan Rp 25 ribu.
Perajin di Dusun Pandean Kutoarjo, Hadi menambahkan, perajin juga mengalami kesulitan menaikkan harga jual. Kenaikan harga akan membuat produk buatan perajin kalah bersaing. "Kami bersaing dengan perajin asal Klaten, Wonosobo, bahkan Lampung," ungkapnya.
Perajin juga terkendala sering terjadinya pemadaman listrik secara mendadak. Pemadaman tersebut mengakibatkan mereka merugi lantaran tidak bisa berproduksi namun tetap membayar biaya tenaga kerja. "Tahun lalu, sering terjadi pemadaman listrik, sehingga mesin blower kami tidak bisa dinyalakan," tandasnya.


